Penyebab Telinga Sakit Saat Naik Pesawat & Solusinya

Pesawat baru saja lepas landas, dan tiba-tiba telinga terasa penuh, berdenging, lalu nyeri yang membuat Anda ingin menjambak headrest kursi depan. Kalau ini pernah Anda alami, Anda tidak sendirian. Penyebab telinga sakit saat naik pesawat sebenarnya cukup umum terjadi dan ada penjelasan medis yang jelas di baliknya, bukan sekadar “telinga sensitif”. Artikel ini akan mengupas apa yang sebenarnya terjadi di dalam telinga saat pesawat naik-turun, cara meredakannya, dan kapan kondisi ini perlu diperiksakan ke dokter.

Keluhan ini masuk dalam ranah Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT), karena ketiga organ tersebut sebenarnya saling terhubung lewat satu saluran kecil yang jarang disadari orang awam. Memahami mekanismenya akan membantu Anda bersiap sebelum penerbangan berikutnya, alih-alih hanya pasrah menahan nyeri di kursi ekonomi.

Kenapa Telinga Bisa Sakit Saat Naik Pesawat?

Secara medis, kondisi ini disebut barotrauma telinga atau di kalangan awam sering disebut airplane ear. Istilah “barotrauma” sendiri berasal dari kata “baro” yang berarti tekanan, jadi secara sederhana artinya adalah cedera atau gangguan akibat perubahan tekanan udara yang terjadi terlalu cepat bagi tubuh untuk menyesuaikan diri.

Di dalam telinga tengah, terdapat saluran kecil bernama tuba eustachius yang menghubungkan telinga tengah dengan bagian belakang hidung dan tenggorokan. Fungsinya menyeimbangkan tekanan udara di dalam telinga dengan tekanan udara di luar. Saat Anda menelan atau menguap, saluran ini biasanya terbuka sebentar dan menyamakan tekanan tersebut secara otomatis.

Masalahnya, saat pesawat lepas landas atau mendarat, tekanan udara di kabin berubah jauh lebih cepat dibanding kecepatan tuba eustachius menyesuaikan diri. Akibatnya, gendang telinga tertarik atau tertekan ke satu arah, dan itulah yang menimbulkan rasa penuh, berdenging, hingga nyeri tajam. Menurut penjelasan yang dipublikasikan Alodokter, kondisi ini paling sering terjadi saat pesawat turun menjelang mendarat, karena penurunan berlangsung lebih cepat dibanding proses naik.

Faktor yang Memperparah Risiko

Tidak semua orang mengalami tingkat nyeri yang sama. Beberapa kondisi berikut membuat seseorang lebih rentan terhadap barotrauma telinga saat terbang:

  • Sedang pilek atau flu, karena saluran tuba eustachius ikut membengkak dan tersumbat oleh lendir.
  • Alergi yang sedang kambuh, termasuk alergi debu atau perubahan cuaca, dengan gejala serupa pilek.
  • Sinusitis atau infeksi sinus yang belum sembuh sepenuhnya.
  • Anak-anak balita, karena ukuran dan sudut tuba eustachius mereka belum berkembang sempurna sehingga lebih mudah tersumbat.
  • Riwayat infeksi telinga tengah (otitis media) dalam beberapa minggu terakhir.
  • Tidur saat pesawat naik atau turun, karena frekuensi menelan berkurang drastis saat tertidur.

Gejala yang Biasanya Menyertai

Selain nyeri, penumpang dengan barotrauma telinga umumnya juga merasakan beberapa hal berikut secara bersamaan.

Gejala Penjelasan Sederhana
Telinga terasa penuh atau tersumbat Tekanan di telinga tengah tidak seimbang dengan udara luar
Berdenging (tinitus) Getaran gendang telinga yang tertekan memicu sensasi suara di dalam telinga
Pendengaran terasa teredam Gendang telinga tidak bisa bergetar normal akibat tekanan
Pusing ringan atau vertigo sesaat Telinga bagian dalam juga berperan pada keseimbangan tubuh
Nyeri tajam hingga menusuk Terjadi saat tekanan tidak kunjung menyeimbangkan diri

Sebagai gambaran nyata, seorang rekan yang rutin melakukan perjalanan dinas pernah bercerita bahwa ia selalu mengalami nyeri hebat di telinga kanan setiap kali pesawat mendarat, terutama saat sedang pilek ringan. Setelah ia mulai membiasakan diri mengunyah permen karet sejak pesawat mulai menurunkan ketinggian, keluhan itu berkurang jauh meski tidak selalu hilang total. Pengalaman semacam ini cukup umum ditemui dan sejalan dengan penjelasan medis mengenai fungsi menelan dalam membuka tuba eustachius.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Telinga Nyeri Saat Terbang?

Saat gejala mulai muncul di kabin, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba untuk membantu menyeimbangkan tekanan telinga. Perlu diingat, langkah-langkah ini bersifat umum dan bukan pengganti penanganan medis bila nyeri berlanjut.

Langkah yang Bisa Dicoba di Kabin

  1. Menelan ludah lebih sering, terutama saat pesawat mulai naik atau turun ketinggian.
  2. Menguap dengan sengaja, karena gerakan rahang membantu membuka tuba eustachius.
  3. Mengunyah permen karet atau permen keras, sebab gerakan mengunyah memicu refleks menelan secara alami.
  4. Melakukan manuver Valsalva secara hati-hati, yaitu menutup mulut dan hidung lalu mengembuskan napas perlahan hingga terasa “pop” di telinga. Manuver ini sebaiknya dilakukan dengan lembut agar tidak melukai gendang telinga.
  5. Tetap terjaga saat pesawat naik-turun, khususnya untuk bayi dan anak kecil, supaya orang tua bisa membantu mereka menyusu atau minum agar tuba eustachius aktif bekerja.
  6. Menghindari tidur saat fase kritis penerbangan, yaitu 30 menit pertama setelah lepas landas dan 30 menit sebelum mendarat.

[infotipskesehatan.com: bisa dihubungkan ke artikel tentang “cara mencegah mabuk perjalanan” atau “tips kesehatan sebelum bepergian jauh”]

Bila Anda sedang pilek, flu, atau sinusitis dan penerbangan tidak bisa ditunda, sebagian tenaga medis biasanya menyarankan penggunaan dekongestan sebelum terbang. Namun, jenis obat, bentuk sediaan, dan waktu penggunaannya sebaiknya dikonsultasikan lebih dulu dengan dokter atau apoteker, karena kondisi tiap orang berbeda dan tidak semua dekongestan cocok untuk semua orang, termasuk ibu hamil dan penderita tekanan darah tinggi.

Kapan Harus ke Dokter?

Sebagian besar kasus telinga sakit saat naik pesawat bersifat ringan dan membaik sendiri dalam beberapa jam setelah mendarat. Meski begitu, [infotipskesehatan.com: bisa dihubungkan ke artikel tentang “gejala infeksi telinga yang perlu diwaspadai”] ada beberapa kondisi yang sebaiknya tidak dibiarkan berlarut-larut. Segera periksakan diri ke dokter THT apabila mengalami salah satu tanda berikut.

  • Nyeri telinga tidak membaik atau justru memburuk lebih dari 24-48 jam setelah penerbangan.
  • Keluar cairan dari telinga, baik bening, kekuningan, maupun bercampur darah.
  • Pendengaran terasa jauh berkurang dan tidak kunjung pulih.
  • Pusing berat atau vertigo yang mengganggu keseimbangan tubuh secara signifikan.
  • Demam disertai nyeri telinga, yang bisa menandakan adanya infeksi.
  • Gejala dialami bayi yang terus-menerus rewel dan menarik-narik telinganya setelah penerbangan.

Dokter THT biasanya akan memeriksa kondisi gendang telinga menggunakan alat khusus untuk memastikan tidak ada robekan atau penumpukan cairan di telinga tengah. Pemeriksaan dini penting dilakukan agar penanganan bisa disesuaikan dengan kondisi sebenarnya, bukan sekadar dugaan.

Bagaimana Mencegahnya Sebelum Terbang?

Pencegahan jauh lebih mudah dibanding mengatasi nyeri yang sudah terlanjur muncul di udara. Beberapa kebiasaan berikut bisa membantu menurunkan risiko barotrauma telinga.

  • Menunda penerbangan jika memungkinkan saat sedang mengalami pilek berat, flu, atau infeksi sinus aktif.
  • Menggunakan penyumbat telinga khusus penerbangan (ear plugs filter tekanan) yang banyak dijual di apotek atau toko perlengkapan travel.
  • Membawa permen atau permen karet untuk merangsang gerakan menelan selama fase naik-turun.
  • Menjaga tubuh tetap terhidrasi, karena dehidrasi bisa membuat lendir di saluran hidung mengental dan menyumbat tuba eustachius.
  • Berkonsultasi dengan dokter sebelum terbang jika memiliki riwayat gangguan telinga tengah, operasi telinga, atau infeksi berulang.

FAQ Seputar Telinga Sakit Saat Naik Pesawat

1. Apa penyebab telinga sakit saat naik pesawat? Penyebab utamanya adalah perubahan tekanan udara yang terjadi lebih cepat dibanding kemampuan tuba eustachius menyeimbangkan tekanan di telinga tengah. Kondisi ini disebut barotrauma telinga dan lebih mudah terjadi saat seseorang sedang pilek, alergi, atau sinusitis.

2. Apa yang harus dilakukan jika telinga nyeri saat pesawat naik atau turun? Cobalah menelan ludah, menguap, atau mengunyah permen karet untuk membantu membuka tuba eustachius secara alami. Manuver Valsalva yang lembut juga bisa membantu, namun bila nyeri tetap hebat atau berlangsung lama setelah mendarat, sebaiknya periksakan ke dokter.

3. Apakah amoxicillin bisa mengobati telinga berdengung? Amoxicillin adalah golongan antibiotik yang digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri, bukan obat khusus untuk telinga berdengung akibat perubahan tekanan udara. Berdenging setelah naik pesawat umumnya disebabkan oleh tekanan pada gendang telinga, bukan infeksi bakteri, sehingga penggunaan antibiotik tanpa indikasi yang tepat justru tidak dianjurkan. Penentuan apakah diperlukan antibiotik atau tidak sebaiknya diserahkan pada pemeriksaan dokter.

4. Berapa lama telinga sakit setelah naik pesawat biasanya sembuh? Pada kebanyakan kasus ringan, rasa penuh atau nyeri di telinga akan mereda dalam beberapa jam hingga satu hari setelah mendarat. Jika lebih dari 2 hari belum membaik, sebaiknya konsultasi ke dokter THT untuk memastikan tidak ada cedera pada gendang telinga.

5. Apakah anak-anak lebih berisiko mengalami telinga sakit saat terbang? Ya, anak-anak, terutama balita, cenderung lebih rentan karena bentuk dan ukuran tuba eustachius mereka belum berkembang sempurna. Memberikan minum atau menyusui saat pesawat naik-turun bisa membantu merangsang gerakan menelan pada anak.

Kesimpulan

Penyebab telinga sakit saat naik pesawat pada dasarnya adalah ketidakseimbangan tekanan udara antara telinga tengah dan lingkungan luar, yang dikenal secara medis sebagai barotrauma telinga. Kondisi ini diperparah oleh pilek, alergi, sinusitis, atau kebiasaan tidur saat fase kritis penerbangan. Kabar baiknya, sebagian besar kasus bisa dicegah dan diredakan dengan langkah sederhana seperti menelan, menguap, mengunyah permen karet, atau menggunakan penyumbat telinga khusus.

Meski begitu, nyeri yang tidak kunjung membaik, keluar cairan dari telinga, atau gangguan pendengaran yang menetap adalah tanda bahwa Anda perlu diperiksa oleh dokter THT, bukan sekadar ditunggu sembuh sendiri. Perlu diingat pula bahwa informasi kesehatan terus berkembang seiring penelitian terbaru.

Bagikan pengalaman Anda di kolom komentar, apakah Anda pernah mengalami telinga sakit saat naik pesawat dan bagaimana cara Anda mengatasinya? Jangan lupa juga untuk berlangganan agar tidak ketinggalan artikel kesehatan THT lainnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top